Al-Ulama Terdahulu

Posted on Updated on

Ilustrasi '' Hari ini adalah menatap dan menata, berbutlah !
Ilustrasi ” Hari ini adalah menatap dan menata, berbutlah !

Para ulama terdahulu terkenal dengan kegigihan mereka dalam menuntut ilmu. Yang membuat mereka tak pernah putus asa dalam menuntu ilmu adalah keikhlasan dalam hati untuk menyebarkan risalah Ilahi. Tidak heran, hampir keseluruhan hidup mereka hanya disisahkan untuk mengkaji Al-Quran, Al Hadist, dan ilmu-ilmu lain.

Jika dibaca sebagian riwayat hidup mereka, ada diantarnya tidak sempat menikah lantaran kesibukan mereka menuntut ilmu. Kebiasaan para ulama terdahulu membesar di rantau orang dan di perjalanan untuk berguru dari masyaikh al-mu’tabar ( guru-guru yang terkenal )di seluruh pelosok dunia.

Diantara dorongan yang membuat mereka gigih untuk keluar menuntut ilmu ialah kerasnya kehidupan di kampung mereka tinggal, tekanan dari pemerintahan setempat dan kurangnya minat penduduk setempat terhadap ilmu.

Dalam perjalanan, ada yang wafat di rantau orang sebelum sempat kembali ke kampung tercinta, ini menunjukkan bahwasaya mereka banyak menghabiskan waktu diperantauan dan perjalanan menimba ilmu.

Mereka juga sangat menjaga kejernihan ilmu, khususnya para muhadditsin ( para alim hadist ) cukup selektif dalam mengambil hadist dari para mayaikh mereka.

Ada suatu cerita menarik ketika seorang muhaddist tengah berhenti di salah satu kampung untuk menemui masyaikh kampung tersebut, tiba-tiba kuda tungganganya mangamuk, merontah kuat pertanda suatu pesan negatif, bermaksud ingin mengabarkan hadist-hadist dari kampung tersebut tidak layak diambil karena penduduk dan masyaikhnya tidak tsiqqoh (adil )>

Subhanallah, kuda pun tau membedakan mana hadist yang shohih, dhoif, dan hasan. Para muhaddist harus selektif dalam mengambil hadist degan 3 katagori, yang pertama shohih, kedua hasan, dan ketiga dhoif, tiga landasan ini benar-benar menjadi patokan untuk menulis hadist-hadist di buku mereka.

Pada zaman mereka keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk mengkaji semua disiplin ilmu dan menuliskannya. Apa yang dinikmati sekarang adalah hasil kerja keras para ulama terdahulu dalam melanjutkan estapet risalah Ilahi yang diturunkan kepada para anbiya dan ulama pewaris para anbiya.

Namun, zaman sekarang semua sudah serba canggih tersedia didepan mata, para penuntut ilmu sebagai penerus mereka harus dapat menyesuaikan diri dengan metode yang ada dan arif dalam berdakwa  dengan manhaj ( metode ) modern.

Daar Al Ghozaly, Jumaat  28 Maret 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s