Panen Salak Mulai Berkurang

Posted on Updated on

Salak Sidempuan di jepret di warung Toko Sampagul Palsabolas
Salak Sidempuan di jepret di warung Toko Sampagul Palsabolas

TAPSEL – Sejak empat tahun terakhir, panen salak di Daerah Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Tapsel, mengalami penurunan. Panen salak saat ini hanya dilakukan sekali dalam dua minggu. Akibatnya, penjual salak di sana ikut berkurang.

Asran Harahap (50) warga Huta Koje Parsalakan, Angkola Barat, mengatakan, sejak empat tahun terakhir, panen salak memang berkurang di Daerah Parsalakan.

“Biasanya salak bisa dipanen satu kali dalam seminggu, sekarang sudah menjadi sekali dalam dua minggu. Hal itu disebabkan cuaca yang tidak menentu,” ungkapnya, Sabtu(4/5).

Dia menambahkan, akibat panen yang menurun itu, penjual salak sudah mulai berkurang di Parsalakan. Sewaktu panen salak lancar, hampir setiap rumah tangga berjualan salak dan kebutuhan ekonomi tetap terpenuhi. Bahkan salak-salak itu bisa dijual ke luar daerah.

”Kalau sekarang, untuk disini saja sudah kurang. Apalagi mau mengekspor keluar daerah,” ungkapnya. Rina (45), seorang pedagang salak mengatakan, harga salak biasanya Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kilogramnya. Itu semua tergantung kualitas dari salak tersebut.

Namun harga tersebut bisa menurun kalau salak tersebut sudah mencapai satu minggu. ”Salak hanya tahan sampai satu minggu, lewat satu minggu biasanya salak tersebut akan busuk. Jadi mau tidak mau, kita harus tetap menjualnya, walaupun itu di bawah harga,” ungkap Rina.

Ia menambahkan, dulu orangtuanya mencukupi keluarga mereka dari hasil penjualan salak. Sebab pada saat itu, mereka masih bisa memanen satu kali dalam seminggu. Namun sekarang, kondisi itu tidak terjadi lagi, disebabkan faktor cuaca yang tidak menentu.

”Sekarang kalau kita panen satu kali dalam seminggu, kualitasnya tidak bagus. Secara tidak langsung, itu akan mengurangi pelanggan kami. Lebih baik dipanen satu kali dalam dua minggu, supaya kualitasnya bagus dan langganan tetap ada,” ujarnya.

Di sisi lain, Febry (19) yang juga penjual salak mengatakan, mereka tidak pernah menjual salak ke luar daerah. Itu akibat panen salak yang terlalu sedikit. “Kalau salak saya sudah habis, biasanya saya mengambil pasokan dari penjual lain. Karena di sini, rata-rata penjual salak saling bekerjasama,” ungkapnya. (mag-02)

Sumber : Metro Tabagsel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s