Mengapa Tetanggaku Jadi TKI?

Posted on Updated on

Dampak Lapangan Kerja di Indonesia Yang Sangat Sedikit Memaksa Mereka Mengadu Nasib Di Negeri Orang, Sampai kapan ini semua, wahai petinggi negaraku !!!!

Meningkatnya perekonomian negara bagi rakyat kecil hanya sekedar mainan angka di sela-sela keterpurukan moral dan maraknya intrik-intrik para politikus. Namun kenyataannya apa yang dirasakan rakyat kecil, harga sembako kian tersenyum sinis melambung tinggi meninggalkan pendapatan mereka yang kadang kala tak cukup untuk membeli sekilo beras dan lima ekor ikan pindang di pasar rakyat. Yang mana lagi harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya dan tagihan rekening listrik yang semakin membebankan.

Maka bertebaranlah saudara-saudara kita mulai dari Malaysia, Brunei, Asia Timur sampai di Timur Tengah. Yang mereka cari hanyalah sesuap nasi dan demi mencapai tujuan hidup yang kadangkal menjadi jerat tersendiri baginya. Maksud hati inginkan kehidupan yang setaraf dengan para tetangga, namun pertarungan melawan takdir dalam mencari rupiah tidak semudah yang di harapkan.

Fenomena-fenomena seperti inilah yang kadangkala menimbulkan jalan pintas sebagian dari para saudara kita untuk mencari penghidupan yang lebih layak dengan menjadi seorang TKI. Namun banyak hal yang mempengaruhi dan menyebabkan para saudara kita TKI di antaranya adalah :

  1. Kurangnya lapangan kerja
    Bukan rahasia lagi apabila seseorang yang ingin bekerja dengan pemerintah baik dalam sektor sipil dan militer di butuhkan dana yang besar. Tidak sesuainya antara para pencari kerja dan lowongan/peluang kerja telah menimbulkan gejala-gejal korupsi yang nyata namun tetap di biarkan. Karena para pencari kerja sendiri memberikan kerja sama dan jalan ke arah KKN tersebut. Sehingga sebagian dari para pencari kerja tersebut yang tidak mampu bersaing lebih rela menyumbangkan tenaga dan jasanya ke luar negeri dengan menjadi TKI.
  1. Desakan ekonomi dan kebutuhan hidup
    Ketika seseorang yang di kejar berbagai kebutuhan hidup seperti biaya pendidikan anak-anak, terjerat hutang piutang dan kebutuhan lainnya. Seringkali menimbulkan keinginan untuk berubah dan mengakali hidup dengan merantau ke luar negeri. Mereka hanya berfikir bahwa dengan menjadi TKI yang katanya lebih mudah menjaring rupiah , namun ternyata terkadang kenyataan tak seindah impiannya selama ini.
  1. Krisis rumah tangga.
    Banyak yang menjadi TKI karena di sebabkan kegagalan dalam mengharungi bahtera rumah tangga. Baik yang berstatus duda maupun janda banyak yang membawa diri serta menjadi TKI sebagai pelarian dalam masalah hidupnya.
  1. Tergiur agen-agen nakal
    Sebagai seorang agen (bahasa TKInya adalahTEKONG) sangat bijak mencari peluang dan memanfaatkan seseorang agar menghasilkan keuntungan bagi pihak dirinya. Akhirnya berbagai janji-janji manis di ucapkan kepada calon TKI yang di perangkapnya. Dan TKI yang menjadi korbannya hanya mampu berserah takdir setelah apa yang di hadapinya tidak sesuai dengan apa yang di janjikan.
  1. Fakor famili dan tetangga
    Sudah lumrah di daerah kampung dan pedesaan, apabila salah seorang tetangga atau familinya yang sukses di perantauan. Apabila pulang ke kampung halamannya, mereka akan mengajak saudara maupun teman-temannya untuk mengikuti jejaknya di perantauan.

Sampai kapan para tetanggaku di gerogoti satu persatu dengan merantau ke luar negeri menjadi TKI. Apakah pemerintah tidak menyadari bahwa Indonesia masih tergolong dalam kategori pengeksport buruh kasar dan murah terbesar di dunia. Apakah dengan mengirimkan rakyatnya ke luar negeri secar kontinyu adalah salah satu pelarian pemerintah dalam ketidak mampuannya menyedakan lapangan kerja.

Ayo para wakilku di atas sana !
Jangan hanya pencitraan diri dan partai saja yang dilakukan,tapi nama baik dan nama besar bangsa Indonesia juga harus dijaga di mata dunia.

Oleh: Mahfudz Tejani ( Kompasianer)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s