Mudik Lebaran 2011

Posted on Updated on

IlustrasiHari lebaran merupakan saat-saat paling indah bersama keluarga, bisa ngumpul dengan abang, adik, kakak, ayah, ibu dan seisi kelaurga. Sanak saudara yang jauh diperantauan akan mudik ke kampung halaman masing-masing demi tujuan untuk berkumpul dengan keluarga. Bagitu juga anak -anak sekolahan akan pulang ke pangkuan ayah dan ibu masing-masing demi memeriahkan suasana lebaran.

Hari lebaran yang baru saja berlangsung masih segar dalam ingantan. banyak suka dan duka yang dialami ketika perjalan pulang menuju kampung dan ketika berada di kampung. Semua itu telah menjadi sejarah dalam buku diere.

Sejarah itu penting untuk dituliskan sebagai pelajaran untuk masa depan. Karena sejarah mengajari kita untuk mengingat masa lalu dan mengambil pelajaran untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Seperti cerita si Ahmad ketika pulang kampung. Dalam perjalanan menuju kampuang banyak peristiwa yang terjadi. Tepat pukul 09 hari Rabu(24/08/2011), Ahmad telah take of dari negara seberang menuju kota Medan dengan menaiki maskapi AirAsia.

Ahmad mengudara selama 45 menit bersama penerbangan AirAsia tujuan kota Medan. Selama berada diudara sudah pasti rasa takut datang mengusik diri. Pesawat mulai bergegar ketika menembusi gumpalan-gumpalan awan besar  saat itu juga rasa kekhawir semakin bertambah, tiada kata selain mengucap Laa Ilaha IllallAllah.

Tak terasa, suara interkom dalam pesawat memberitahu’ sebentar lagi kita akan sampai di Polinia Medan silakan kembali ke tempat duduk masing-masing, kenakan sabuk pengaman sampai pesawat berhenti dalam posisi sempurna.

Ahmad pun turun dari pesawat menuju ruangan imigrasi dengan pasport hijaunya. Setelah dicop oleh pihak imigrasi, Ahmad langsung menuju tempat pengabilan koper yang baru saja diturankan dari pesawat.

Namun suasana disini agak ramai oleh orang-orang baik yang  menawarkan jasa  ingin mengagkat koper keluar bandara. kemudian mereka akan meminta upah yang tidak sewajarnya. Waspadalah.

Sekarang koper sudah berada ditangan Ahmad  untuk terus melanjutkan perjalanan ke kampung halaman yang masih jauh dari kota Medan. Perjalanan terus dilanjutka dengan menaiki Teksi bandara menuju Loket  Teksi jurusan padangsidempuan.

Tiket tujuan Padangsidempuan sudah dibeli dengan harga Rp 100.00 masih dalam harga normal walaupun hari lebaran tinggal beberapa hari lagi. Namun, mau tak mau kusri yang tersedia hanya tinggal satu, kursi no 1 kursi yang paling tidak disukai orang banyak karena posisinya didepan dan pas disamping sopir.

Walaupun kursi itu agak angker bagi penumpung tetap menjadi pilihan terakhir demi pulang kampung. katanya duduk didepan itu resikonya sangat tinggi. katakalah kalau ada apa-apa terjadi dengan Teksi tersebut, sudah pasti bagian depan merasakan resikonya terlebih dahulu.

Namun, itu hanya persepsi orang dan tak ada kepastian  apa yang akan berlaku. semua takdir ditangan Allah. apa pun yang terjadi sebagai manusia Ahmad hanya pasrah dengna kehendak Ilahi. Ahmad putuskan untuk terus melanjutkan perjalanan walaupun kursi yang sedang ia duduk tidak semestinya menjadi pilahannya.

Bismillah, Ahmad menaiki teksi tepat pukul 20:00 Wib diperkirakan sampai di kampung halaman jam 06:00 pagi besok harinya. Teksi tersebut sudah perlahan meninggalkan kota medan dengna kecepatan 80km/ Jam terkadang lebih bahkan mencapai 100km/jam ketika jalan sepi dari kenderaan.

Disinilah banyak peristiwa-peristiwa yang tak bisa dilupakan oleh seorang Ahmad mahasiswa yang merindukan keluarganya di kampung. Ketika itu sopir teksi yang terkesan pemarah, tak bisa diajak kompromi membuat suasana semakin tak bersahabat.

Sopir yang terkesan pemarah tadi terus menekan gas memotong kendaraan didepannya sesekali hampir naas akibat ulah si sopir yang tak sabar menuggu untuk memotong. Sesekali kenderaan lain hampir menambrak Teksi tersebut.

Namun, ada satu hal yang membuat Ahmad sangat khawtir ketika itu melihat tingkah si sopir  yang mengantuk setelah hampir pertengahan jalan antara kota Medan dan Pasid. Posisi teksi terkadang sudah keluar jalur, tak menentu, dengan kecepatan yang cukup lambat. benar-benar mengakhawatirkan.

Ahmad pun tambah galau akan keadaan itu, semua penumpang sudah pada tidur nyenyak. Ahmad yang dari awal menaiki Teksi tak bisa tidur sama sekali dan tidak memungkinkan untuk tidur karena kalau tidur sebentar aja si sopir akan terganggu.

Ahmad mencoba  mengajak si sopir  untuk ngobrol-ngobrol biar rasa ngantuknya hilang, Namun, lagi-lagi tingkah si sopir yang menjengkelkan disapa malah marah sangat sulit untuk diajak bersahabat tak seperti sopir sopir yang pernah Ahmad kenal ketika berada di Negara seberang itu, yang terkenal dengan ramah taman dan sopan santunnya.

Yasudalah, Ahmad hanya berdoa dalam hati semoga perjalanan ini sampai ke rumah dengan selamat. Amien .. ya Allah. 

Daar Ghozali, 13/10/2011

Shahrul Muda Harahap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s