Kampungku

Posted on Updated on

sawah-indah.jpgMentari pagi kembali menyapa kehidupan manusia, terik matahari begitu cerah menyinari pagi itu, para pedangang sudah mulai membuka warung masing-masing,  para Agen simpang sudah mulai turun ke lapangan, menggantikan Agen yang berjaga malam, orang-orang Musafir tampak duduk di tempat penungguan bus,  Ibu-ibu rumah tangga nampak bergeges ke pasar membeli sayur-mayur, ikan, dan bahan-bahan dapur lainya. Anak-anak sekolahan telah bersiap-siap menuju sekolah masing-masing, para pegawai telah beranjak ke lokasi kerja masing-masing. Tinggallah para penjaga warung yang setia berjaga  sambil menunggu si pembeli datang.

Palsabolas adalah kampung halamanku, merupakan kawasan persimpangan, dan jalan lintas Sumatra-Utara, atau lebih di kenal dengan  ‘’Sirpang Tolu’’ (Simpang Tiga) dan disebut juga ‘’ Simpang Transit’’. setiap kenderaan yang datang dari barat, menuju ke utara sudah barang tentu melewati kawasan itu.  Palsabolas sangat akrab di telinga  para Musafir, khususnya orang yang terpaksa transit sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, sudah kebiasaan mereka untuk singgah di kampungku  sambil menuggu angkot jurusan selanjutnya.  inilah salah satu keistimewaan kampungku lebih unggul dari yang lainnya. Selain ada ‘’Timbangan Truk’’ yang beroperasi 24 jam, pedangan asongan yang siap tempur dengan barang daganganya berupa kerupuk sambal,minuman dll, para Agen yang siap melayani  para Musafir 24 jam. Semuanya itu membuat suasana di kampungku tak kunjung sepi, baik waktu pagi, siang, dan malam. Tak seperti  tetangga kampungku, pukul 09 malam sudah pada tidur dan tutup pintu.

Melihat kondisi kampungku yang setiap saat ramai dengan orang-orang Musafir, Penduduk kampungku cukup bijak mengambil kesempatan ini, dengan berjualan berbagai  makanan ringan, kue-kue, oleh-oleh khas, buah-buahan, salak dll.  telah banyak menarik simpati para Musafir untuk membelinya. Warung-warung kampungku cukup bersaing, kenapa tidak? Jualannya semua sama tidak begitu bervariasi seperti jualan buah ‘’Salak’’ di setiap warung, semua di hiasi dengan pajangan salak di depan warung masing-masing. buah salak ini telah menjadi tarikan utama untuk para pembeli karena memang buah salak adalah satu-satunya oleh-oleh khas dari Tapsel, apalagi salak Sidempuan sudah dikenal dimana-mana, cukup manis, renyah, besar-besar  dan rapuh.

Nah, Jualan salak, memang sangat asyik, selain untungnya banyak, kerjanya tidak rumit, tinggal hanya pajang saja di depan warung dan siap-siaga menunggu pelanggan datang membeli. tapi ingat, harus berpenampilan rapi, pandai  ngomong, merayu, melobi,  agar si pelanggan tidak beranjak ke tempat lain. ‘’ rugi kalau sempat pergi tempat lain,’’ kata si Penjual yang agak egois.. hehe. Jualan salak bukan selalu meraut keuntungan banyak, terkadang remis, bahkan rugi, sudan menjadi adat perdangan rugi dan untung, Karana yang mengatur rizke bukan manusia itu sendiri, manusia hanya berusaha, mengoptimalkan kerja dan berdo’a kepada Sang Pemberi Rezki.

Musim lebaran, hari natal, tahun baru, liburan anak sekolah. hari yang di tunggu-tunggu pedangan di kampungku, disinilah puncak mengais rizke yang sebanyak-banyaknya, pada ketika itu para pemudik tidak sungkan-sungkan lagi  singgah di warung-warung kampungku sekedar membelikan ole-ole untuk keluarga mereka di kampung. Biasanya pemudik dari Jakarta  yang pulang kampung  ke Tarutung, tidak lupa singgah di kampungku untuk membeli salak. Mereka suka sekali buah salak, tapi suka juga nawar harga , ‘’Pelanggan Toba:boado di baen hargana on Ipar. Penjual ‘’ mura do nian ipar, coba hamuma jolo,’’ P.Toba ‘’ nagelleng sadia,’’  Penjual ‘’Rp5000,’’ P.Toba ‘’ mola nabalga i,’’ Penjual ‘’ Rp 7000, P.Toba ‘’dang muro be lattna?’’ Penjual ‘’ bisa ma di atur I amangboru, piga kilo deh?’ P.Toba’’ baen ma 10 kg’’ Penjual ‘’ jadi ma tahurangi ma arrganai 10kg Rp 60.000 ..biado? ..P. Toba .. jadi Ipar, bunkus hamuma tu sumpit’’. Ujar si Pembeli dan si Penjualan dalam tawar menawar harga, Ala bahas Batak berpasir-pasir.

Palsabolas masih termasuk desa tertinggal, masih perlu  perhatian khusus pemerintahan  setempat untuk meninggkatkan fasilitas dan sarana kebutuhan masyarakat, seperti pengadaan Tong Sampah, sumber air bersih (air leding), lapangan sepak bola dll.  semoga kemakmuran, kerukunan, saling membantu sesama, saling mengahargai, tetap menjadi simbolis kampungku.

Alor  Star, Sabtu 16 Januar 2011

Sahrul Zein Harahap (syabab_sm@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s