Semester Baru, Semangat Baru

Posted on Updated on

tlSisa-sisa kegelapan malam mulai meniggalkan praduaanya melanjutkan perjalananan berikutnya. Terik matahari mulai menampakkan cahaya dengan malu-malu pagi hari itu. Para pegawi, Anak-anak sekolahan, buruh pabrik, pekerja supermarket  nampak bergegas menuju tempat kerja masing-masing. Kelihatan di jalan raya seolah-olah mobil, sepeda motor saling mendahulukan. sesekali membunyikan klakson membrikan isyarat kepada lainya. Kesibukan jalan raya selalu menghiasi susana pagi di Kota Alor Star yang terkenal dengan pasar tradisional Pekan Rabu. terletak di bagian Utara Malaysia.

Rahman juga sudah tampak bersiap-siap untuk mengikuti muhadharoh(kelas kuliah) maddah Ilmu Ar-rijal Wa Manahijul Muhadistin oleh Dr. Abdul Al-Fatah dosen fakultas Usuluddin yang berasal dari Mesir itu. Rahman adalah salah satu Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di salah satu Kolej (perguruan tinggi) di kota itu. yang terkenal dengan Kolej Universiti Insaniah(KUIN). semua orang sudah mengenali KUIN dengan suasana Islami yang diadaptasi langsung dari Universitas Al-Azhar  Mesir. Hampir semua tenaga pengajar KUIN didatangkan dari luar Negara seperti Mesir, Somolia, Sudan, Tunisia, dan Australia membuat KUIN semakin terkenal seantro Internasional.

Seperti biasa Rahman memanaskan mesin sepeda motor terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kampus sambil menikmati sarapan pagi dengan sejangkir teh dan roti. Dengan berbekalkan tas kecil berisi buku moqorror dan peci hitam terus melangkah menuju sepada motornya yang sudah buruk itu. Perlahan motor berjalan dari lorong pahlawan menuju jalan raya telok wanjah, sambil belok kanan menuju jalan stadion Darul Aman dengan menempuh sekitar 10 menit sampai ke kampus.

Tepat pukul 08:00 pagi Rahman harus memasuki kelas setelah cuti semester hampir sebulan lamanya, tapi tanda-tanda proses belajar mengajar blum begitu nampak di kampus itu membuat Rahman ragu- ragu antara mau masuk kelas apa gak? Dengan tekad semester baru, semangat baru, harapan baru Rahman tidak putus asa walau sahabat-sahabat lain masih asyik berlibur dikampung.  Sudah menjadi kebiasaan Mahasiswa di Kampus telat datang setelah liburan semester tutur Rahaman dalam hati. Hari itu juga Rahman masuk kelas bersama sahabatnya yang hadir hanya 10 orang saja, yang biasanya sampai seratus orang. Kelas pun berjalan seperti biasa.

Dengan membaca bismillah Doktor mesir itu memulai muhadharah tentang maddah Ilmu Ar-rijal wa Manahijil Muhadistin. Rahman sendiri blum pernah mendengarkan maddah itu seblumya, sejenak dia berpikir ‘’ Ilmu Ar-Rijal secara bahasa maksunya Ilmu yang mempelajari tetang pemuda. Ehh… kok aneh kali subjet yang satu ini” lantas rasa penasran itu membuatnya lebih serius untuk mendengar penjelasan dari Doktor dengan tekun dan fokus. Doktor meberikan penjelasan singkat seblum memasuki pelajaran, berkenaan dengan judul Moqorron semester ini yaitu Ilmu Ar-Rijal wamanahijil Muhadsitin. Maksudnya Ilmu-Makrifah, Ar-Rijal- Periwayat hadist, Manahij- method, Muhadtsin-orang-orang muhadts. Alhamdulilah dengan penjelasan singkat Rahman dan sahabatnya serentak mengangukkan kepala isyarat paham atas penjelasan Doktor mesir itu.

Dengan semangat baru, semester baru, penjelasan Doktor semakin mendalam tentang pelajaran hari itu. Rahman cukup kagum dengan kefashihan bahasa arabnya dan kearifan Doktor itu. Seolah tidak sebanding dengan Ustad-ustadnya dulu sewaktu belajar di Pesantren. Doktor itu tampak tidak letih bercakap-cakap sambil sesekali mengisyaratkan tangannya. menuliskan sesuatu di papan tulis dan meminta perhatian muridnya. Tak terasa Jam pun telah menunjukkan pukul 09:15 tinggal hanya 15 menit lagi muhadhrah hari itu akan selesai. Seblum Doktor mesir itu meninggalkan kelas. pertanyaan pun dibuka untuk para Muridnya, mungkin masih ada yang blum jelas disela-sela Muhadharahnya. Dan tiada satu pun yang angkat tangan. Dalam hati Doktor itu..Alhamdulillah semua paham apa yang saya jelaskan hari ini. Assalmualaikum ucap Doktor seraya meninggalkan kelas.

Rahman sangat gembira hari itu dan bersyukur kepada Allah, mengingat pesan Doktor mesir itu tentang keutamaan para sahabat tiada bandingannya dengan Ummat zaman sekarang. Mereka itulah yang hidup bersama Rasullallah dan banyak membantu Rasullallah dalam mengarungi lautan Dakwahnya. Mereka jugalah yang masih mempertahankan Islam sampai hari ini masih disegani di seantro Dunia. Semua ini merupakan kegigihan para sahabat demi Dinul Islam. Setelah para sahabat diikuti pula dengan Tabi’in yang lebih utama disbanding Ummat sekarang. Mereka masih hidup bersama para sabahat sudah barang tentu Keimanan, Ilmu yang mereka miliki lebih mendalam daripada kita sekerang. Begitulah selanjutnya Ummut Islam semakin tidak berkualitas seiring berjalannya waktu sampai Akhirat nanti. tapi seorang bernama Rahman tidak menyarah untuk terus mencari ridho Ilahi dan menjadikan Rasullallah SAW sebagai panutan dalam hidupnya karena dia meminginkan kehidupan yang dia jalani seperti  Para Sahabat RA, walau itu tidak akan pernah tercapai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s